Minggu, 22 Januari 2012

Wisata Kuliner Buah Lahung Khas Pedalaman

Wisata Kuliner Buah Lahung

Buah Lahung merupakan buah yang terdapat di pedalaman Kalimantan. Buah ini mirip dengan buah durian. Ciri-ciri Buah Lahung adalah durinya yang lancip dan tajam serta panjang-panjang, dengan warna kulit termasuk warna duri merah kehitaman.Pohon Buah Lahung bisa hidup selama ratusan tahun dengan diameter mencapai 2 meter. Pohonnya sendiri saat ini sulit ditemui karena banyak yang ditebang untuk dijual kayunya.

Wisata Kuliner DODOL Kandangan

Wisata Kuliner Dodol Kandangan

Dodol Kandangan merupakan makanan khas yang diproduksi oleh masyarakat Kandangan secara turun temurun.Bahan utama pembuatan panganan ini adalah beras ketan dan gula aren. Meskipun kebanyakan dikemas secara sederhana, rasa dodol ini sangat manis. Jika berjalan-jalan ke Hulu SUngai Selatan, jangan lupa membeli oleh-oleh dodol Kandangan yang rasanya tidak kalah dengan dodol Garut.

air terjun Malaris KAb. hss

_air terjun Malaris dan Balainya_

Air terjun Malaris adalah air terjun kedua yg saya nikmati, terletak kurang lebih 2km dari pusat Loksado, lebih dekat daripada air terjun Haratai dan aksesnya jg lebih mudah..


Air terjun Malaris bisa dijangkau dg kendaran bermotor jg, dan medannya tidak seberat ke air terjun Haratai. jembatan diatas adalah jembatan menuju air terjun Malaris yg hanya beberapa meter saja dari lokasi. motor tidak dperbolehkn melewati karena memang tidak memungkinkan, tenang gan ga jauh koq...




Ketinggian air terjun Malaris memang lebih rendah dibanding air terjun Haratai, kurang lebih 4 meter, tp serunya kita jadi lebih bisa 'merangkak' menuju puncak jika punya nyali.... airnya sangat jernih, batunya alami tp awas liciinnn... pada saat arus tidak terlalu deras, memungkinkan kita 'bermain' berlama-lama disana tanpa harus basah kuyup kecuali bagi mereka yg sngaja mandi :p


Dalam perjalanan ke air terjun Malaris, tepatnya di desa Loklahung terdapat balai Adat Dayak Meratus atau Balai Adat Malaris. Balai Adat Malaris merupakan balai adat terbesar di desa Loksado. Balai adat ditempati lebih dari 10 kepala keluarga, merupakan tempat ritual adat dayak Meratus dimana tiap tahun selalu dilaksanakan ritual. Ritual yang dimaksud adalah acara yg diselenggarakan sebagai ucapan terima kasih kepada Sang Pecipta atas anugrah hasil alam di Loksado kepada mereka. biasanya dilakukan satu tahun dua kali pada saat akan menanam padi dan pada saat panen. ritual ini biasanya disebut dengan Aruh, sampai saat ini saya jg masih belum pernah mengikuti aruh tp sudah merupakan agenda saya untuk melihat acara ini..hehheeeheee.... jd tunggu berita selanjutnya ya gan ttg acara Aruh ini.... :)))))

Sabtu, 21 Januari 2012

WISATA FOTOGRAFI KAB. HSS

Bundaran, Bukan Sekadar Hiasan

 

KANDANGAN -- Simbol sebuah kota memang sangatlah penting. Sebab, dari situlah makna sebuah identitas masyarakat dibentuk. Ini ditunjukkan oleh Pemda Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) kala merenovasi Bundaran Hamalau baru-baru ini.
“Tidak hanya menjadikan bundaran menjadi indah, tapi juga padat makna. Bundaran baru ini mengandung makna Hari Jadi Kabupaten Kandangan ke-50. Karena itu, ada unsur 50 di situ. Juga ada unsur-unsur lain semisal kubah dan tiangnya yang berjumlah empat,” papar Bupati HSS HM Safi'i.
Lebih dari itu, agar simbolisasi Bundaran Hamalau ini semakin padat makna, di situ juga ada unsur ketupatnya. “Ketupat sudah menjadi salah satu ciri khas makanan warga Kandangan. Karena itu, unsur ketupat juga diikutkan di dalam renovasi bundaran kali ini,” ujar salah seorang anggota DPRD HSS, Syamsuri Arsad.
Jika dipahami lebih dalam, semua unsur simbol yang diabadikan di dalam Bundaran Hamalau ini mengandung filosofi yang lengkap. Ada religiusitas yang disimbolkan dengan kubah. Ada tradisi dan nilai ekonomis yang disimbolkan dengan ketupat. Ada juga unsur sejarah yang disimbolkan dengan angka 50.

Selain itu, tugu ini adalah tempat wisata orang-orang yang hilir mudik baik dari dalam daerah sendiri ataupun luar daerah untuk sekedar bersantai, ataupun mengambil foto-foto sebagai kenang-kenangan.

WISATA KULINER KAB. HSS

Katupat Kandangan

Siapa yang kada tahu lawan katupat kandangan, bilang kaliwaran banar kalau kada tahu. Katupat sudah manjadi cirri khas hagan kandangan selain dodol atau kuliner lainnya. Apalagi wayahni sudah ada tugu hari jadi Kab. HSS yang ibu kotanya Kandangan. Di tugunya ada katupatnya dua biji, sampai anak cucu 7 turunan kada habis tu katupat dimakani barataan. Tugu ni adanya di Desa Hamalau Kec Sungai Raya
Ketupat Kandangan atau orang Banjar biasa menyebutnya Katupat Kandangan merupakan kuliner khas yang berasal dari daerah Kandangan, Kab. Hulu Sungai Selatan,Kalimantan Selatan. Seperti ketupat pada umumnya, bahan untuk membuat ketupat berasal dari beras, yang dimasukkan dalam ayaman daun kelapa yang berbentuk seperti limas, yang selanjutnya direbus. Yang membedakan dengan jenis ketupat lainnnya adalah penggunaan ikan gabus (haruan) sebagai menu pelengkap. Ikan Gabus sebelumnya harus di panggang dulu sebelum direbus menggunakan santan. Kemudian, Ikan Gabus beserta kuahnya disiramkan ke ketupat. Kuliner ini dapat dimakan untuk makan pagi, siang atau malam. Kuah agak kental dengan rasa yang sangat khas gurih. Kadang-kadang orang juga senang makan katupat kandangan ini dengan telur asin

Wisata Alam Tanuhi Kab. HSS

Tanuhi Kandangan Indah Kab.HSS

Salah satu wisata air yang terkenal di Kab. HSS adalah wisata air tanuhi. Wisata ini memiliki berbagai fasilitas antara lain kolam air hangat, kolam renang, kafe, villa, tempat karaoke dll. tempat wisata ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun dengan menggunakan mobil kurang lebih setengah jam dari pusat kota kandangan. Selain dapat memanjakan diri dengan berendam di kolam air hangat, anda juga dsuguhi berupa pemandangan alami dan kesejukan aroma pegunungan yang segar.

Kamis, 24 November 2011

PANTAI SEPANJANG - Si Pantai Kuta Tempo Doeloe

Sepanjang
Album Foto (5 foto)

PANTAI SEPANJANG

Alamat: Desa Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
Koordinat GPS: S8°8'0.2" E110°33'11.3"

Sepanjang, si Pantai Kuta Tempo Doeloe

Bila ingin bernostalgia menikmati nuansa Pantai Kuta tempo doeloe, Pantai Sepanjang adalah tempat yang tepat. Sepanjang memiliki garis pantai yang panjang, pasir berwarna putih yang masih terjaga, dan ombak yang sedang. Anda tinggal memilih, ingin berjemur di atas pasir menikmati terik matahari, membelah ombak dengan papan selancar, ataupun hanya melihat keindahan pantai. Semuanya bisa Anda nikmati begitu tiba di pantai yang berjarak beberapa kilometer dari Pantai Sundak ini.
Pantai Sepanjang merupakan salah satu pantai yang baru dibuka. Nama "Sepanjang" diberikan karena ciri khas pantai ini yang memiliki garis pantai terpanjang di antara semua pantai di Kabupaten Gunung Kidul. Suasana pantai ini sangat alami. Bibir pantai dihiasi tumbuhan palem dan gubug-gubug beratap daun kering. Karang di wilayah pasang surut pantai pun masih terawat. Hempasan ombak masih memantulkan warna biru menandai air laut yang belum banyak tercemar. Dengan suasana itu, tak salah bila pemerintah daerah maupun investor berencana menjadikan pantai ini sebagai Pantai Kuta kedua.
Suasana alami itulah yang menjadikan Pantai Sepanjang lebih dari Pantai Kuta. Sepanjang tidak menawarkan hal-hal klise seperti beach cafe dan cottage mewah, tetapi sebuah kedekatan dengan alam. Buktinya, anda akan tetap bisa menggeledah karang-karang untuk menemukan berbagai jenis kerang-kerangan (Mollusca) dan bintang laut (Echinodermata). Anda juga tetap bisa menemukan limpet di batuan sekitar pantai dan mencerabut rumput laut yang tertanam. Tentu dengan berhati-hati agar tak tertancap duri landak laut. Jelas kan, Anda tak akan menemuinya di Pantai Kuta?
Kebudayaan masyarakat pantai juga masih sangat kental. Tak ada bangunan permanen di pinggir pantai, hanya beberapa gubug yang ditinggali oleh masyarakat setempat. Masih di pinggir pantai, terdapat ladang yang digunakan penduduk untuk menanam kedelai. Pantai yang landai dan langsung diterpa ombak menyebabkan tak ada penduduk yang melaut. Bila melihat ke belakang, akan tampak dua buah bukit yang bagian lerengnya digunakan penduduk setempat untuk menanam jagung sebagai sumber makanan pokok. Tanah di puncak bukit tersebut telah dibeli oleh investor untuk dibangun sebuah villa yang harapannya bisa digunakan sebagai penginapan wisatawan.
Sepanjang juga memiliki situs bersejarah, yaitu Banyusepuh. "Banyu" berarti air dan "sepuh" berarti basuh atau membasuh. Sesuai namanya, tempat yang tadinya berupa mata air ini digunakan untuk membasuh atau memandikan. Penggunanya konon adalah para wali yang biasanya membasuh pusakanya. Situs ini tak akan diketahui keberadaannya bila tak bertanya ke penduduk setempat. Ketika YogYES melihat, situs ini hanya tinggal kubangan kering yang ditumbuhi tanaman liar.
Capek berkeliling, maka istirahatlah. Gubug-gubug yang berada di pinggir pantai biasanya digunakan penduduk untuk menjual makanan dan minuman yang sekiranya cukup untuk melepas lapar dan dahaga. Disediakan pula lincak (tempat duduk yang disusun dari bambu) untuk tempat ngobrol dan menikmati semilirnya angin pantai. YogYES sempat merasakan betapa sejuknya berteduh di bawah gubug. Kalau senja tiba, tengoklah ke barat untuk menyaksikan kepergian matahari. Walau kini belum ada villa, namun penduduk setempat cukup terbuka bila ada yang menginap.
Soal oleh-oleh jika pulang, pengunjung tak perlu berpusing-pusing mencari. Bukankah oleh-oleh tak harus selalu berbentuk makanan? Beberapa penduduk yang tinggal beberapa kilometer dari pantai sudah membuat kerajinan tangan berbahan dasar cangkang kerang-kerangan yang kemudian dipasarkan oleh penduduk pantai. Meski tak sekomersil di Malaysia, kerajinan tangan yang dibuat oleh penduduk cukup bervariasi. Ada kreasi berbentuk kereta kencana, orang-orangan, barong, jepitan, ataupun yang hanya sekedar dikeringkan dan dipendam di dalam pasir. Beberapa di antaranya dilukis sederhana menggunakan cat. Harganya pun tak mahal, cuma Rp 5.000 per biji.
Harga kerajinan yang murah tak berarti bernilai rendah. Kerajinan berbahan dasar Mollusca sebenarnya memiliki nilai historis yang besar. Jika pernah membaca buku ataupun artikel tentang Conchology, Anda akan mengetahui bahwa kerajinan tersebut adalah bentuk kebudayaan maha tinggi yang berkembang di masyarakat pesisir. Orang-orang Hawaii di Amerika Serikat, Kepulauan Melanesia, atapun Maori di Selandia Baru mengembangkan kerajinan serupa. Mereka merangkai cangkang kerang-kerangan menjadi kalung, rok, ikat pinggang, hingga memahat dan melukisnya menjadi seni rupa maha dahsyat.
Apabila uang di dompet sedang mepet, pengunjung dapat mengkoleksi cangkang yang ada di pinggiran pantai. Benda kecil ini dapat menjadi hadiah menarik bila diproses lebih lanjut. Ambil beberapa buah cangkang yang masih utuh kemudian masukkan dalam kantong plastik. Sesampainya di rumah, belilah tembakau atau mint dan campurkan dengan alkohol 90%. Setelah direndam sehari semalam, ambil cangkang dan gosok perlahan. Langkah itu akan menghilangkan lapisan kapur pada cangkang sehingga yang tinggal hanya lapisan tengahnya saja (lapisan prismatik). Gosokan akan membuat warna cangkang lebih cemerlang.
Nah, sangat menarik bukan berwisata di tempat Sepanjang? Jadi, tunggu apa lagi? Anda tinggal melaju dengan sepeda motor atau menginjak pedal gas mobil Anda. Tak usah menggubris naik turunnya medan ataupun jalan bebatuan menuju pantai ini sebab keindahan alam dan budaya yang akan dinikmati jauh lebih dari pengorbanan Anda. Percayalah, semua akan terbayar dan Anda pun akan berkata seperti salah seorang turis asal Belanda yang ditemui YogYES, "Ini betul-betul si Kuta baru. Banyak pantai di sini dan Bali sudah sangat turistik, tapi di sini pantai tenang. Sangat menyenangkan."